Sekolah Para Juara

TRADISI DAN PELUANG EKONOMI DI BULAN RAMADHAN

 

 


Oleh : Galih Gandhatri, S.Pd.

Bagi umat muslim, Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bulan suci penuh ampunan, dimana setiap pahala ibadah dilipatgandakan oleh Allah SWT. Ketika datangnya bulan suci Ramadhan, umat muslim menyambut dengan suka cita dan mempersiapkan segala sesuatunya baik yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah. Salah satu hal yang cukup menarik ketika bulan Ramadhan datang adalah semarak jajanan yang berada di hampir semua ruas jalan se-Indonesia. Ada yang menyebut jajanan tersebut dengan istilah ta’jil.

Meskipun tengah dilanda pandemi Covid-19, saat ini masih terdapat beraneka ragam makanan yang dijajakan oleh masyarakat ketika bulan Ramadhan. Mulai dari yang rasanya manis, asin, pedas, hingga gurih. Mulai dari yang warnanya putih, cokelat, merah, hingga hijau. Hampir semuanya ada, berwarna-warni menambah semaraknya bulan suci Ramadhan.

Ø  Tradisi dan peluang

Fenomena banyaknya jajanan ketika bulan Ramadhan merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin berkembang. Tak heran apabila kondisi perekonomian akan terangkat saat bulan Ramadhan tiba. Bagi masyarakat, fenomena seperti ini menjadi peluang untuk berkarya sekaligus menambah penghasilan sembari menungggu waktu berbuka puasa. Tidak sedikit masyarakat yang menjadi penjual “dadakan” saat bulan Ramadhan. Mahasiswa dan pelajar pun seakan juga tidak mau melewatkan kesempatan seperti ini untuk menambah uang saku mereka. Singkat kata, fenomena banyaknya jajanan menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan merupakan tradisi yang dapat memberikan peluang bisnis bagi siapa saja mulai dari pemerintah daerah, masyarakat umum, hingga pelajar dan mahasiswa.

Ø  Berburu simpati

Sebagai masyarakat yang menjajakan barang dagangannya menjelang waktu berbuka di bulan Ramadhan, tentu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menarik simpati calon pembeli. Barang-barang dagangannya akan dikemas sedemikian rupa sehingga memberikan penampilan yang menarik. Hal ini sangat penting mengingat banyak sekali barang dagangan sejenis yang dijual di lokasi berdekatan. Naluri masyarakat sebagai penjual tersebut ternyata sejalan dengan konsep teori bahwa kemasan barang dagangan harus memberikan kesan. Maksudnya adalah hanya dengan melihat kemasannya saja, calon pembeli akan tertarik untuk melihat lebih jauh dari barang yang dijajakan tersebut. Dengan kata lain, kemasan dagangan yang menarik akan dapat mempengaruhi kondisi psikologis calon pembeli hingga akhirnya barang tersebut dilihat, didekati, dan dibeli.

Ø  Cermati sebelum membeli

Aneka jajanan yang berwarna-warni tentu sangat menggugah selera terlebih disaat menjelang berbuka puasa. Disaat perut sudah keroncongan, banyak sekali godaan untuk membeli. Namun sebagai pembeli, kita harus mampu menahan diri dan juga cermat dalam memilih jajanan. Dalam media massa kita melihat banyaknya pedagang-pedagang nakal yang sengaja menjajakan makanan tidak sehat. Mulai dari bahan baku utama hingga bahan penolong seperti pewarna yang sebenarnya bukan untuk makanan. Hal ini diperparah dengan ketidaksengajaan penjual sehingga menjadikan makanan yang dijajakan tidak sehat. Pilihlah jajanan yang Anda yakin bersih, higienis, dan komposisinya tidak akan mengganggu kondisi kesehatan tubuh kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar